Gue dan Joker

Kayanya gua ga pernah nonton film kaya Joker di Bioskop. Film2 macam gini biasanya gw tonton di rumah. Kaya Innaritu’s Biutiful, Cuaron’s Ytu Mama Tambien, Infernal Affairs, or even Vinterberg’s Jagten. Wait a minute…. Yep, Joker berada di level yang sama dengan film2 yang gue sebut. Joker is the 5th movie yang gue rated 10, setelah Jagten, YTu Mama Tambien, Infernal Affairs, dan Before Sunset. Joker, film yang diadaptasi dari sebuah karakter from a COMIC FREAKIN BOOK! I always love the Joker as a character. Favorit gue tentu aja Brian Azarello’s version yang sumpah disturbing banget. Gue juga demen ama Mark Hamill’s version, The Killing Joke version, Heath Ledger version, hell, gue bahkan lumayan fond juga ama Jared Leto’s version. Why? Karena The Joker is itu pure chaos. Its like the unstoppable force yang bakalan fuck everything up without reason at all. Anti Thesisnya Batman, which is an immovable objek yang bakalan fuck everything if he has a reason. The Joker is the reason kenapa gue selalu lebih ngefan ama DC daripada Marvel. Gak ada karakter se murni The Joker or Batman di Marvel.

Jadi, apanya yang special dari Todd Phillip’s Joker. Buanyak banget. I’m not gonna talk about the technicality yang emang uda bagus bener terutama dari music ama cinematographynya, so first of all, gak nyangka banget sutradara film yang ngebikin film sesampah The Hangover bisa bikin masterpiece kaya gini. Walo originalitynya questionable banget. Kaya Taxi Driver ama The Killing Joke digabung jadi satu. Bikin umat manusia jadi makin misterius menurut gue. Lu kira, kita bisa menjawab semua pertanyaan tentang kita dan umat manusia, ternyata? Big Fuckin Surprise. Kedua, the story. It is so freakin predictable. Tadinya gue berharap lebih dari sekedar Arthur yang dibuli ama dunia terus akhirnya gila dan stress, but it was just that. And that’s the good thing and the whole point, you don’t need multiple plot overarching arc yang planting the shit for sequel dimana2 for this movie. It is simple and yet lumayan ngejelimet juga buat dianalisa. Ngejelimet dimana? Ngejelimet di Joaquin Phonix lah. Which is one of the most powerful acting I’ve ever saw in the silver screen. Joaquin Phoenix jadi Point ketiga yang bikin film ini begitu spesial, dan jujur aja, ulasan tentang Joaquin Phoenix butuh Paragraf sendiri.

The guy is in every FRAME. Gak ada scene tanpa dia. Ini kaya Tour de Force-nya dia. This is what happen kalo seorang aktor berusaha keras menjadi seorang eksebisionis akting. And Godamn, Joaquin really show them all in this movie. And the fucker didn’t even become the JOKER in this movie, cuma di 5 menit terakhir doang! Sisanya, dia masih jadi seorang Arthur Fleck yang haus kasih sayang, dan misunderstood by everybody. Missunderstood?? Really? Yes. Gue jelasin disini deh. Penduduk gotham yang emang dasarnya anarkis gila denger soal badut gila yang ngebunuh 3 orang pegawai Wayne Enterprises, dan karena emang uda gak percaya ama government dan polisi, they created their own version dan mengubah aksi yang sebenernya cuma kriminalitas biasa jadi politik, tetang yang miskin lawan yang kaya. Mereka jadiin Arthur semacem simbol gerakan mereka, padahal kalo si Arthur itu berhasil mencapai apa yang dia mau, ya dia jadi anaknya Thomas Wayne, bukan musuhnya. Yang dia mau cuma kasih sayang dari semacem father figure gitu. Thomas dissapointed him, dan begitu juga Murray…Walo tetep aja di akhirnya, si Arthur mah bodo amet. Dia malah merasa akhirnya itu orang2 anarkis yang embrace and accepted him, even if it was for all the wrong reasons.. Padahal kan his goal genuinely is to make people laugh and bring joy to the world, but its over when he realised that the world is laughing at him….YES, it is that DEEP! Setidaknya menurut opini gue ye..Ni film emang kayanya diciptain buat merangsang perdebatan deh..

Joker gak perfect, tapi pantes banget dapet nilai 10 dari gue. 10 itu bukan artinya sempurna, tapi MASTERPIECE. Gak ada yang sempurna di planet ini. Monalisa aja yang masterpiece gitu orang aslinya jelek kok. Jeleknya sih gara2 this movie walking in the thin line between being ambiguous art and also ngebikin comicbook fans kaya gue  a bit hard on with on-the-nose references. But the last 20 minutes of this movie itu gila banget dan gak akan pernah ditemuin di film manapun menurut gue. Not even in all the masterpiece yang gue sebut diatas. The last 20 minutes gives you the grandiosa efek yang gak butuh CG gila2an non mahal buat ngebikin kita, human, ngerasa nonton something yang Mega Epic. But the Joker has a scary effect juga sih menurut gue. This movie bikin kita, as a viewer, ngerasain dan berpikir kalo theorynya si Joker itu bener banget, kalo everyone is just one bad day from madness dan melakukan pembenaran atas aksi kekerasan, mau itu disengaja atopun gak disengaja. I hope orang2 yang bisa berpikir kalo Arthur is a good role model, bisa berpikir kalo JOKER is just a damn movie. One hell of a beautiful movie, and a very very realistic one…

 10/10

 

PS: It would be very very cool ya kalo seandainya the nurse yang ada di ending itu diganti ama Batman…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s