Gue dan “The Raid”

Jujur aja, keluar dari bioskop abis nonton the Raid, tangan gw bergerak kesana kemari dan gw langsung pengen belajar segala macam jenis martial art MMA krav maga tetek bengek, walo akhirnya kemauan itu surut selesai gw makan nasi ulam beberapa jam setelahnya. The Raid mungkin bukan film yang bikin gw bangga ama sineas Indonesia, tapi The Raid itu jadi satu-satunya film Indonesia  dalam satu dekade terakhir yang patut disetarakan dengan kata MANTAP dan GILA.

The Raid jelas jauh dari kata sempurna. Setnya keliatan murahan. Logic dan plotholenya dimana-mana. Dialognya memalukan dan kaku. Kecuali Mad Dog yang polos, semua karakternya irasional. Aktingnya ngaco. Ceritanya agak-agak maksa. Produser dan sutradaranya masih kerasa banget aura amatirannya, terutama diliat dari segi-segi detail kecil mengecewakan yang bakalan mengurangi nilai film ini seandainya gw nonton buat ke dua kalinya. Tetapi The Raid punya tiga kekuatan lain yang langsung nenggelemin semua kejelekan tadi, dan bisa disetarain sama film-film action kelas atasnya Hollywood.  Pertama, dari segi Editing. Gue akuin editor film ini tau bener caranya bikin adrenalin penonton terpacu setiap detik. Walopun di saat-saat penuh percakapan, dan komedi yang agak gak penting, The Raid masih bisa membuat jantung gw berdebar-debar. Kedua, special effectnya. Darah dan efek brutalnya lebih keren daripada The Expendables pertama. Keliatan real dan AWESOME.

Kekuatan the Raid yang terakhir terletak di semua adegan Actionnya. Walo kadang-kadang terkesan terlalu teatrikal dan niru Batman Arkham Series, The Raid bikin malu seluruh film Hollywood selama sepuluh tahun terakhir dari segi actionnya. The Dark Knight, Live Free or Die Hard, bahkan Bourne Series gak ada tai-tainya dari segi fighting scene. The Expendables dan Ong bak mungkin lebih realistik dan grounded, tetapi THE RAID lebih jelas, memuaskan, brutal, dan gak nanggung. Pas keluar dari bioskop semua penonton bakalan ngerasa puas dengan segala macem adegan pertarungan di dalam film ini. Adegan street fighting diantara Mad Dog dan dua tokoh utama bener-bener gila! Pantas jadi klimaks film ini.

The Raid bakalan jadi film paling larisnya Indonesia. Ini langkah pertama Indonesia nancepin kukunya di perfilman Mainstream global. Jangan sampe lepas kukunya. Terus hasilin film-film yang sama kuat dan powerfulnya, gw yakin kita bakalan ngekick Thailand sebagai Jawara cinemanya Asia Tenggara. Bahkan mungkin, Jepang juga bakalan kalah kalo film-film dengan se-ground breaking The Raid ada di port polionya Sineas Indonesia. The Raid Powerful, unik, gak ada basa-basi dan keren. 8/10! Guilty Pleasure yang memuaskan!

Advertisements

One thought on “Gue dan “The Raid”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s